PLASENTA PREVIA
A. Definisi
Plasenta previa adalah plasenta yang berinsersi pada
tempat yang abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian
atau seluruh pembukaan jalan lahir (ostium uteri internum). Pada keadaan normal
plasenta berinsersi pada bagian depan atau belakang atau daerah fundus uteri.
B. Insiden :
Menurut literature Barat, melaporkan frekuensi plasenta
previa 0,3-0,6%. Di Negara berkembang berkisar 1-2,4%. Dari bebarapa penelitian
yang lain, plasenta previa punya insiden 1 dari 200-250 kehamilan. Data
terakhir yang didapat dari Amerika Serikat, plasenta previa terjadi 2,8 tiap
1000 kelahiran hidup pada tahun 1989-1997. Pada
tahun 2004, di Rumah sakit DR. Ciptomangunkusumo tercatat 37 kejadian
plasenta previa dari 4781 persalinan yang terdaftaratau kira-kira 1 dari 125
persalinan terdaftar
C. Klasifikasi :
Plasenta previa pada umumnya dibagi dalam 3 tingkat, sebagai berikut :
1.
Plasenta previa totalis : seluruh ostium uteri internum
tertutup oleh plasenta
2.
Plasenta previa lateralis :hanya sebagian dari ostium
uteri internum yang tertutup oleh plasenta.
3.
Plasenta previa marginalis : hanya pada pinggir ostium
terdapat jaringan plasenta.
Belum ada kesepakatan di antara para ahli mengenai klasifikasi plasenta
previa. Oleh karena pembukaan tidak didasarkan pada anatomi melainkan pada
keadaan fisiologis yang dapat berubah-ubah, maka klasifikasi berubah setiap
waktu. Misalnya, pada pembukaan yang masih kecil, seluruh pembukaan ditutupi
oleh jaringan plasenta, namun pada pembukaan lengkap menjadi plasenta previa
lateralis. Jadi penentuan plasenta previa bergantung pada besarnya pembukaan,
misalnya plasenta previa marginalis pada
pembukaan 2cm dapat menjado palsenta previa lateralis pada pembukaan 4 cm. oleh
karena itu, penentuan macamnya plasenta previa harus disertai dengan keterangan
mengenai besarnya pembukaan. Ada
juga yang penegakan diagnosis adalah sewaktu moment opname yaitu saat penderita diperiksa.
Pembagian yang
lain menurut de sono, berdasarkan pada pembukaan 4-5 cm :
1.
Plasenta previa sentralis (totalis), bila pada
pembukaan 4-5 cm teraba plasenta menutupi seluruh ostium.
2.
Plasenta previa lateralis, bila pembukaan 4-5 cm
sebagian pembukaan ditutupi oleh plasenta, dibagi 2 :
a.
Plasenta previa lateralis posterior : bila sebagian
ostium menutupi ostium bagian belakang.
b.
Plasenta previa lateralis anterior : bila menutupi
bagian depan ostium uteri internum
c.
Plasenta previa marginalis : bila sebagian kecil atau
hanya pinggir ostium yang ditutupi plasenta.
Pembagian
menurut Browne :
1.
Tingkat 1 =
lateral placenta previa
Pinggir bawah plasenta berinsersi sampai ke segmen bawah rahim , namun
tidak sampai ke pinggir pembukaan.
2.
Tingkat 2 = marginal
placenta previa
Plasenta mencapai pinggir pembukaan (ostium)
3.
Tingkat 3 = complete
plcenta previa
Plasenta menutupi ostium waktu tertutup, dan tidak menutupi waktu
pembukaan lengkap
4.
Tingkat 4 = central
placenta previa
Plasenta menutupi seluruhnya pada pembukaan hampir lengkap
Terdapat satu
kelompok yang tidak dimasukkan dalam plasenta previa yaitu plasenta letak
rendah yaitu bila plasenta berinsersi rendah tetapi tidak sampai ostium uteri
internum. Pimggir plasenta kira-kira 3 sampai 4 cm di atas pinggir pembukaan,
sehingga tidak akan teraba pada pembukaan jalan lahir.
D. Etiologi
Penyebab
plasenta belum diketahui dengan jelas, bermacam-macam teori dikemukaan seperti
:
1.
Endometrium yang inferior
2.
Chorion leave yang persisten
3.
Korpus luteum yang bereaksi lambat
4.
Menurut Strassmann, karena vaskularisasi yang kurang
pada desidua menyebabkan atrofi dan peradangan.
5.
Menurut Browne, karena persistensi vili khorialis pada
desidua kapsularis.
Faktor-faktor
etiologi :
1.
Pada keadaan endometrium yang kurang baik karena
endometrium atrofi atau kurang baiknya vaskularisasi desidua
a.
Umur dan paritas :
(i)
Pada primigravida umur di atas 35 tahun lebih sering
daripada pada usia kurang dari 25 tahun.
(ii)
Lebih sering pada paritas tinggi terutama bila jarak
kehamilan pendek
b.
Hipoplasia endometrium, bila menikah dan hamil pada
usia muda
c.
Endometrium yang cacat karena bekas persalinan yang
berulang-ulang, bekas operasi, kuretase dan manual plasenta.
d.
Tumor-tumor seperti mioma uteri, polip endometrium
2.
Korpus luteum yang lambat bereaksi sehingga endometrium
belum siap menerima hasil konsepsi
3.
Perubahan inflamasi atau atrofi, misalnya pada perokok
atau pemakai kokain. Hipoksemia yang terjadi akibat karbon monoksida akan
dikompensasi dengan hipertrofi plasenta. Terutama terjadi pada perokok lebih
dari 20 batang.
Keadaan
endometrium yang kurang baik menyebabkan
1.
Plasenta harus tumbuh menjadi luas untuk memenuhi
kebutuhan janin. Plasenta yang tumbuh meluas akan mendekati atau menutupi
ostium uteri internum
2.
Zigot mencari tempat implantasi yang lebih baik, yaitu
di tempat rendah dekat ostium uteri internum
Plasenta previa
juga dapat terjadi pada plasenta yang besar dan luas seperti pada
eritroblastosis, diabetes mellitus ataupun pada kehamilan multipel.
E. Diagnosis dan Gambaran klinis
1.
Anamnesis :
a.
Gejala pertama yang membawa penderita datang ke
pelayanan kesehatan ialah perdarahan
pada kehamilan 28 minggu atau pada trimester ketiga. Akan tetapi tidak jarang
terjadi pada kehamilan sekitar 20 minggu. Perdarahan plasenta previa mulai terjadi
ketika terbentuk segmen bawah rahin yaitu ketika regangan pada dinding rahim
karena isi rahim lebih cepat tumbuhnya daripada rahim sendiri, akibatnya istmus
uteri menjadi bagian dinding korpus uteri yaitu segmen bawah rahim. Perdarahan
terjadi karena pergeseran antara plasenta dan dinding rahim. Saat perdarahan
bergantung pada kekuatan insersi plasenta dan kekutan tarikan istmus uteri.
Jadi, dalam kehamilan tidak perlu ada his untuk menimbulkan perdarahan. Darah
berasal dari ibu terutama dari ruangan intervilosa, dari anak jika jonjot
terputus atau pembuluh darah plasenta terbuka.
b.
Sifat perdarahan :
i.
Tanpa rasa nyeri (painless)
ii.
Tanpa sebab (causeless)
iii.
Berulang (recurrent),
karena dengan kemajuan kehamilan regangan bertambah lagi dan menimbulkan
perdarahan baru. Perdarahan yang terjadi ini cenderung berulang dengan volume
yang lebih banyak dari sebelumnya.
iv.
Warna darah merah segar.
2.
Inspeksi
a.
Dapat dilihat perdarahan yang keluar dari vaginum
b.
Jika perdarahan banyak maka ibu kelihatan pucat atau
anemis
3.
Palpasi
a.
Bagian terbawah janin belum turun, apabila letak
kepala, biasanya kepala masih goyang atau teraoung (floating) atau mengolak di atas pintu atas panggul.
b.
Sering dijumpai kesalahan letak seperti letak lintang,
letak sunsang.
4.
Pemeriksaan inspekulo
Dengan
memakai speculum secara hati-hati dilihat dari mana asal perdarahan, apakah
dari uterus atau dari serviks atau vagina.
5.
Ultrasonografi
Membantu
penentuan lokasi plasenta secara ultrasonografis sangat tepat dan tidak
menimnulkan radiasi pada janin. Dengan USG ini sudah dapat menegakkan diagnosis
plasenta previa sebelum kehamilan trimester III.
6.
Pemeriksaan dalam (VT)
Pemeriksaan
dalam pada plasenta previa sangat berbahaya karena akan menimbulkan perdarahan
yang hebat. Selain itu juga dapat menimbulkan infeksi dan merangsang terjadinya
his sehingga dapat terjadi partus prematurus. Karena perdarahan bisa disebabkan
karena varises atau kelainan serviks (polip, erosion, carcinoma), maka
sebaiknya di rumah sakit dilakukan pemeriksaan inspekulo terlebih dahulu untuk
menyingkirkan kemungkinan ini.
Teknik
dan persiapan pemeriksaan dalam :
a.
Pasang infuse dan sediakan darah
b.
Pemeriksaan dilakukan di kamar operasi, dimana
fasilitas operasi sudah tersedia.
c.
Pemeriksaan dilakukan secara hati-hati dan secara
lembut (lady,s hand).
d.
Lakukan perabaan fornices (fornices test) terlebih dahulu sebelim masuk ke kanalis servikalis
yaitu dilakukan bila anak dalam
presentasi kepala, dengan meraba seluruh forniks dengan jari. Perabaan terasa
lunak, bila antara jari dan kepala terdapat plasenta. Bila antara jari dan
kepala janin teraba keras berarti tidak terdapat plasenta diantaranya.
e.
Pemeriksaan melalui kanalis servikalis. Apabila kanalis
servikalis terbuka, perlahan-lahan jari telunjuk dimsukkan ke dalam kanalis
servikalis dengan tujuan meraba kalau ada kotiledon plasenta. Tetapi jangan
sekali-kali menyusuri pinggir plasenta, karena mungkin plasenta akan terlepas
dan menimbulkan banyak perdarahan.
Indikasi
pemeriksaan dalam pada perdarahan antepartum :
a.
Perdarahan yang banyak, lebih dari 500 cc
b.
Perdarahan yang berulang-ulang (recurrent)
c.
His telah mulai dan janin sudah dapat hidup di luar (viable)
F. Pengaruh Plasenta Previa terhadap Kehamilan
dan Partus
Karena dihalangi oleh plasenta yang berinsersi di
bawah, maka bagian terbawah janin tidak bias terfiksisr ke dalam pintu atas
panggul, sehingga terjadilah kelaianan letak janin. Sering terjadi partus
prematurus karena adanya rangsangan pada koagulum darah pada serviks. Selain itu
jika plasenta lepas, hormone progesterone turun, sehingga dapat terjadi his,
juga lepasnya plasenta dapat merangsang timbulnya his.
Pengaruh plasenta previa pada partus ;
- Letak janin yang tidak normal menyebabkan partus menjadi patologis.
- Bila pada plasenta previa lateralis, ketuban pecah atau dipecahkan dapat terjadi prolaps funikuli.
- Inersia uteri primer
- Perdarahan
G. Komplikasi
Komplikasi pada ibu :
1.
Plasenta dapat melekat erat, sehingga harus dikeluarkan
manual dan kalau perlu dikeluarkan dengan kerokan.
2.
Perdarahan postpartum, karena :
a.
Kontraksi segmen bawah rahim kurang baik sehingga
mekanisme penutupan pembuluh darah pada tempat insersi plasenta tidak baik.
b.
Kadang plasenta erat melekat pada rahim (plasenta
akreta)
c.
Daerah perlekatan plasenta bias luas
3.
Infeksi
4.
Syok hipovolemik
5.
Kelainan koagulopati
6.
Kematian
Komplikasi pada janin :
1.
Prolaps tali pusat
2.
Hipoksia
3.
Anemia
4.
IUGR (Intra
Uterine Growth Retardation)
5.
Bayi premature
6.
Kematian
H. Prognosis
Penegakan diagnosis yang tepat dan penanganan operatif
yang bersifat dini, mampu menurunkan angka kematian dan kesakitan ibu serta
perinatal
I. Penanganan
Semua pasien dengan perdarahan pervaginam pada kehamilan
trimester ke tiga, dirawat di rumah sakit tanpa dilakukan periksa dalam
(toucher vagina). Bila pasien dalam keadaan syok karena perdarahan yang banyak,
harus segera diperbaiki keadaan umumnya dengan pemberian infus atau transfusi
darah 3. Selanjutnya penanganan plasenta previa tergantung kepada :
a.
Keadaan umum pasien, kadar Hb
b.
Jumlah perdarahan yang terjadi
c.
Umur kehamilan/taksiran BB janin
d.
Jenis plasenta previa
e.
Paritas dan kemajuan persalinan 3
Penanganan
pada pasien dengan plasenta previa ada 2 yaitu :
a.
Penanganan Ekspektatif /
Konservatif 3,8
Kriteria :
1)
Umur kehamilan kurang dari 37
minggu
2)
Perdarahan sedikit
3)
Belum ada tanda-tanda persalinan
4)
Keadaan umum pasien baik, kadar Hb 8
gr% atau lebih
Rencana penanganan :
1)
Istirahat baring mutlak
2)
Infus Dextrose 5% dan elektrolit
3)
Spasmolitik, tokolitik,
plasentotropik, roboransia
4) Periksa Hb, HCT, COT,
golongan darah
5)
Pemeriksaan USG
6)
Awasi perdarahan terus menerus,
tekanan darah (tensi), nadi dan denyut jantung janin
7) Apabila ada tanda-tanda
plasenta previa, tergantung keadaan, pasien dirawat sampai kehamilan 37 minggu,
selanjutnya penanganan secara aktif
b.
Penanganan Aktif 3,8
Kriteria :
1) Umur kehamilan (masa
gestasi) >37 minggu, BB janin >2500 gram
2)
Perdarahan banyak, 500 ml atau
lebih
3)
Ada tanda-tanda persalinan
4) Keadaan umum pasien tidak
baik, ibu anemia, Hb < 8%.
Faktor-faktor yang menentukan pemilihan cara persalinan adalah :
a.
Jenis plasenta previa
b.
Perdarahan : banyak atau sedikit
c.
Keadaan umum ibu hamil
d.
Keadaan janin : hidup, gawat atau meninggal
e.
Pembukaan jalan lahir
f.
Paritas
g.
Fasilitas penolong dan rumah sakit
a.
Persalinan pervaginum :
Pada persalinan ini bertujuan supaya bagian terbawah
janin menekan plasenta dan bagian plasenta yang berdarah yang berlangsung
selama persalinan sehingga berhenti. Pemilihan cara ini dipertimbangkan pada 1)
keadaan perdarahan yang sedikit, 2) pembukaan sudah lebar, 3) multiparitas, 4) tingkat
plasenta previa ringan dan bila janin telah mati. Dalam pemilihan terapi
pervaginam sebaiknya dihindarkan persalinan yang lama dan sulit karena akan
sangat membahayakan ibu dan janinnya.
Cara-cara persalinan pervaginum :
1)
Pemecahan selaput ketuban (amniotomi)
Cara ini dapat dilakukan pada plasenta letak rendah, plasenta previa
marginalis, dan plasenta previa lateralis yang menutupi ostium uteri internum
kurang dari setengah bagian. Pada plasenta previa lateralis yang terdapat di
sebelah belakang, lebih baik dilakukan section sesarea karena kepala tertahan
pada promontorium sehingga tidak dapat menekan plasenta. Pemecahan ketuban
dapat menghentikan kehamilan karena :
a)
Setelah pemecahan ketuban, uterus mengadakan retraksi
hingga bagian kepala akan menekan pada plasenta.
b)
Plasenta tidak tertahan lagi oleh ketuban, sehingga
dapat mengikuti gerakan uterus hingga tidak terjadi pergeseran antara plasenta
dan dinding rahim.
c)
Setelah ketuban dipecahkan berikan oksitosin drips
2,5-5 satuan dalam 500cc dextrose 5%.
2)
Versi Braxton hikcs
Tujuan perasa Braxton hikcs adalah mengadakan tamponade
plasenta dengan bokong dan menghentikan perdarahan dalam rangka menyelamatkan
ibu. Tindakan ini sering menimbulkan robekan pada serviks dan segmen bawah
rahim, sehingga tidak digunakan lagi di rumah sakit besar. Cara ini biasanya
digunakan pada keadaan perdarahan yang sangat banyak, kesulitan mendapatkan
darah, dan di daerah yang tidak mungkin melakukan section sesarea. Syarat untuk
melakukan tindakan ini adalah pembukaan yang dapat dialalui2 jari untuk menurunkan
kaki. Versi dilakukan pada letak kepala, untuk mencari kaki supaya dapat
ditarik keluar. Kaki diikat denagn kain kasa dikatrol dan diberi beban
seringan-ringannya tetapi dapat menghentikan perdarahan. Biasanya 50-100 gram.
3)
Cunam willett-gauss
Tujuannya untuk mengadakan tamponade plasenta dengan
kepala. Perasat ini sudah hampir tidak pernah digunakan. Dilakuakn dengan cara
kulit kepala diklem dengan cunam willet gauss lalu diikat dengan kain kasa atau
tali dan diberi beban sekitar 50-100 gram.
b.
Persalinan perabdominal
Tujuan melakukan section sesarea adalah untuk
mempersingkat lamanya perdarahan dan mencegah terjadinya robekan serviks dan
segmen bawah rahim yang terjadi karena persalinan pervaginum. Tindakan sectio
sesarea pada plasenta previa selain dapat menurunkan angka kematian janin,
terutama dilakukan untuk kepantingan ibu. Oleh
karena itu sectio sesarea tetap dilakukan pada plasenta previa walaupun
janinnya sudah meninggal.
Indikasi section sesarea :
1)
Semua plasenta previa sentralis janin hidup atau
meninggal
2)
Semua plasenta previa lateralis posterior karena
perdarahan sulit dikontrol dengan cara-cara yang ada.
3)
Semua plasenta previa dengan perdarahan yang banyak.
4)
Plasenta previa dengan panggul sempit dan letak
lintang.
Teknik
operasi walaupun diakui bahwa sectio sesarea transperitoneal profunda merupakan
cara yang terbaik, akan tetapi melakukan teknik secara corporal dapat dilakukan
apabila ternyata plasenta berinsersi pada dinding depan uterus, hal ini
dilakukan untuk menghindari sayatan pada plasenta, dan menghindari sayatan pada
segmen bawah rahim yang biasanya rapuh dan banyak pembuluh darah besar karena
insersi plasenta, dengan demikian menghindari perdarahan postpartum.
Pada kasus yang terbengkelai, dengan anemia berat dan infeksi
intrauterine, baik section sesarea maupun persalinan pervaginum sama-sama tidak
mengamankan ibu dan janin. Akan tetapi dengan bantuan transfusi darah dan
antibiotic, section sesarea lebih aman. Untuk multigravida yang sudah cukup
anak dipertimbangkan untuk dilanjutkan dengan sterilisasi.
Perdarahan pada bekas insersi plasenta kadang tidak dapat
diatasi, maka dapat diambil tindakan :
1)
Bila anak belum ada, untuk menyelamatkan alat
reproduksi dilakukan ligasi arteri hipogastrika
2)
Bila anak sudah cukup paling baik dilakukan histerektomi.
- Komplikasi 3,7
Komplikasi-komplikasi
yang bisa terjadi antara lain :
a)
Perdarahan dan syok
b)
Infeksi
c)
Laserasi serviks
d)
Plasenta akreta
e)
Prolaps
tali pusat.
f)
Prolaps
palcenta.
g)
Bayi
prematur atau lahir mati
K.
Prognosis
Dengan adanya fasilitas
diagnose dini (USG), transfusi darah, tehnik anestesi dan operasi yang baik
dengan indikasi SC yang lebih liberal, prognosis ibu cukup baik. Prognosis
kurang baik jika penolong melakukan VT di luar rumah sakit dan mengirim pasien
sangat terlambat dan tanpa infus 3.
Dengan antibiotik,
transfusi darah yang cukup, penanganan persalinan baik
pervaginam maupun perabdominal (seksio sesaria) yang tepat akan memberikan
prognosis yang baik untuk ibu 7.
Mortalitas perinatal yang terkait
dengan placenta previa sekitar 15-20 % atau sekitar 10 kali dari kehamilan
normal. Penanganan obstetrik dan perawatan neonatal yang baik dapat dapat
menurunkan angka mortalitas tersebut 3,7.
Daftar Pustaka
1. Hariadi, R., dkk.
2004. Ilmu Kedokteran Fetomaternal, Edisi perdan. Jilid I. Surabaya,
Himpunan Kedokteran fetomaternal Perkumpulan Obstetric dan Ginekologi
Indonesia.
2.Wiknjosastro,
Hanifa, dkk. 2002. Ilmu Kebidanan, Edisi ketiga. Jakarta, yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo
3. Yoseph, Perdarahan Selama
Kehamilan. Cermin Dunia Kedokteran. No.
12. 1996
4. Cunningham, Mac Donald, Gant, Levono,
Gilstrap, Hanskin, Clark. 1997. William‘s Obstretics 20th
edition. Prentice-Hall International Inc. Pp : 773-818
5.
Sumapraja, S; Rachimhadhi, T. 1999. Dalam Wiknjosastro H, Ilmu Kebidanan.
Edisi Ketiga Cetakan Keenam. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta. Pp : 365-76
6.
Pernoll ML. Benson & Pernoll handbook of
obstetric and gynaecology. 10th
ed. Boston : McGraw-Hill companies,
2001.
7.
Saifudin BA , Adriaansz G, Wiknyosastro GH, Waspodo D. eds. Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan
neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo, 2001
8. Anonim,
2004. Protap Pelayanan Profesi kelompok Staf Medis Fungsional Obstetri dan
Ginekologi RSUD Dr. Moewardi, 2004. Surakarta
9. Abdul Bari Saifudin, 2002. Buku Panduan
Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
10. Ben-zion Taber,
1994. Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi (alih bahasa: T. Supriyadi dan J.
Gunawan). EGC. Jakarta
11. Martin L Pernall,
MD, 1994. This Trimester Hemorrhage in Current Obstetric and Gynecologic
Diagnosis and Treatment, 7th edition. Appleton and Lange,
California
12. Harry Oxorn,
1996. Perdarahan Antepartum dalam Ilmu Kebidanan Fisiologi dan Patologi
Persalinan. Yayasan Essentia
Medica, Jakarta.

Blognya bagus bu dokter. tingkatkan tulisannya hingga menjadi amal jariyah.Amin. kalau mau bangun klink butuh rak untuk tempat obat hubungi jayarak ya :)..bisa di www.jayarakminimarket.com bisa juga lihat di www.jayarakminimarket.blogspot.com
BalasHapussukses selalu buat bu dokter.Amin
Jual Rak Minimarket, Jual Rak Toko, Jual Rak Supermarket, Jual Rak Minimarket / Supermarket Gondola Single, Jual Rak Minimarket / Supermarket Gondola Double, Jual Rak Gudang Minimarket / Supermarket, Jual Rak Obral Wagon Minimarket / Supermarket, Jual Rak Gantung Minimarket / Supermarket, Jual Rak Snack Minimarket / Supermarket, Jual Rak Wing Minimarket / Supermarket, Jual Aksesories Hook Minimarket / Supermarket, Jual Pintu Putar Minimarket / Supermarket, Jual Trolley Belanja Minimarket / Supermarket, Jual Meja Kasir Minimarket / Supermarket, Jual Hanger Minimarket / Supermarket, dll.http://rayarakminimarket.com
BalasHapus