OSTEOPOROSIS
- Anatomi Tulang
Diafisis atau batang, adalah bagian tengah tulang yang
berbentuk silinder. Bagian ini tersususn dari tulang kortikal yang memiliki
kekuatan yang besar.
Metafisis adalah bagian tulang yang melebar didekat ujung
akhir batang. Daerah ini terutama disusun oleh tulang trabekular atau tulang
spongiosa yang mengandung sel-sel hematopoetik. Sumsum merah terdapat juga
dibagian epifisis dan diafis tulang. Pada orang dewasa, aktifitas hematopoietik
menjadi terbatas hanya pada sternum dan krista iliaka, walaupun tulang-tulang
yang lain masih berpotensi untuk aktif lagi
bila diperlukan. Sumsum kuning yang terdapat pada diafisis tulang orang
dewasa terutama terdiri dari sel-sel lemak. Metafisis juga menopang sendi dan
menyediakan daerah yang cukup luas untuk perlekatan tendon dan ligamen pada
epifisis.
Lempeng epifisis adalah daerah pertumbuhan longitudinal pada
anak-anak, dan bagian ini akan menghilang pada tulang dewasa. Bagian epifisis
langsung perbatasan dengan sendi tulang panjang yang bersatu dengan metafisis
sehingga pertumbuhan memanjang tulang terhenti.
a. Periosteum
Periosteum merupakan lapisan pertama dan selaput
terluar tulang yang tipis. Periosteum mengandung osteoblas (sel pembentuk
jaringan tulang), jaringan ikat dan pembuluh darah. Periosteum
merupakan tempat melekatnya otot-otot rangka (skelet) ke tulang dan berperan
dalam memberikan nutrisi, pertumbuhan dan reparasi tulang rusak.
b.
Tulang kompak (korteks)
Tulang kompak merupakan lapisan kedua pada tulang
yang memiliki tekstur halus dan sangat kuat. Tulang kompak memiliki sedikit
rongga dan lebih banyak mengandung kapur (Calsium Phosfat dan Calsium Carbonat) sehingga tulang menjadi padat.
Tulang kompak paling banyak ditemukan pada tulang
kaki dan tulang tangan. Delapan puluh persen tulang di tubuh
dibentuk oleh tulang kompak. Sel tulang kompak berada di lakuna dan menerima
nutrisi dari kanalikulus yang bercabang di seluruh tulang kompak dan
disalurkan melalui kanal havers yang mengandung pembuluh darah. Di sekeliling
tiap kanal havers, kolagen tersusun dalam lapisan konsentris dan membentuk
silinder yang disebut osteon (sistem Havers) atau disebut juga tulang keras.
Setiap sistem Havers terdiri dari saluran Havers,
yaitu suatu saluran yang sejajar dengan sumbu tulang. Disekeliling sistem
havers terdapat lamella-lamella yang konsentris dan berlapis-lapis. Pada
lamella terdapat rongga-rongga yang disebut lakuna. Di dalam lakuna terdapat
osteosit. Dari lakuna keluar saluran-saluran kecil yang menuju ke segala arah
disebut kanalikuli yang berhubungan dengan lakuna lain. Di antara sistem havers
terdapat lamella interestial yang lamella-lamellanya tidak berkaitan dengan
sistem havers. Pembuluh darah dari periosteum menembus tulang kompak melalui
saluran volkman yang berhubungan dengan pembuluh darah saluran havers. Kedua
saluran ini arahnya saling tegak lurus.
c.
Tulang Spongiosa
Pada lapisan ketiga disebut dengan tulang
spongiosa, berada di dalam korteks dan membentuk sisa 20% tulang di tubuh. Tulang
spongiosa memiliki banyak rongga. Rongga tersebut diisi oleh
sumsum merah yang dapat memproduksi sel-sel darah. Tulang spongiosa terdiri
dari kisi-kisi tipis tulang yang disebut trabekula. Trabekula terdiri dari spikulum / lempeng, dan sel-sel terletak di
permukaan lempeng. Nutrien berdifusi dari cairan ekstrasel tulang ke dalam
trabekula. Lebih dari 90 % protein dalam matriks tulang tersusun atas kolagen
tipe I.
d.
Sumsum Tulang (Bone Marrow)
Lapisan
terakhir tulang yang paling dalam adalah sumsum tulang. Sumsum
tulang wujudnya seperti jelly yang kental dan dilindungi oleh tulang spongiosa.
Sumsum tulang berfungsi memproduksi sel-sel darah yang ada dalam tubuh.
Gambar 1. Struktur tulang
Gambar
2. Sistem kanalis Haversi
2. Histologi Tulang
Tulang terdiri dari komponen matriks dan sel. Matriks
tulang terdiri dari komponen organik dan anorganik. Sedangkan sel tulang
terdiri dari sel osteoprogenitor, osteoblas, osteoklas, dan osteoid.
a.
Matriks Anorganik
Merupakan 50% dari
berat kering matriks. Terdiri dari mineral kalsium, fosfat, bikarbonat, sitrat, magnesium, kalium, natrium. Kalsium dan fosfat membentuk Kristal hidrosiapatit dengan komponen Ca10(PO4)6(OH)2. Ion
permukaan hidrosiapatit berhidrasi dan selapis air dan ion terbentuk di sekitar
kristal. Lapisan ini, yaitu lapisan hidrasi membantu pertukaran ion antara
kristal dan cairan tubuh.
b.
Matriks Organik
Matriks organik
mengandung kolagen tipe I, glikosaminoglikan sulfat, asam hialuronat,
glikoprotein osteokalsin dan osteoponin yang berikatan erat dengan kristal
kalsium selama mineralisasi tulang dan sialoprotein yang mengikat osteoblas
pada matriks ekstraselular melalui integrin protein membrane plasma.
c. Osteoprogenitor
Merupakan embryonic mesenchymal cells, sehingga
menjaga kemampuan mitotik (sangat berpotensi untuk berdiferensiasi menjadi
Osteoblas). Berada pada bagian dalam periosteum, lapisan canal harvest, dan di
dalam endosteum (Junquiera,
2007).
d. Osteoblas.
Berasal
dari sel mesenkimal, berada di permukaan tulang,dan merupakan sel yang
bertanggung jawab dalam proses formasi (pembentukan) tulang dengan membentuk
kolagen tipe I dan proteoglikan sebagai matriks organik (osteoid) (Setiyohadi,
2007).
Ketika sedang
aktif menyintesis osteoid, osteoblas mensekresikan sejumlah besar alkali
fosfatase yang memegang peranan penting dalam mengendapkan kalsium dan fosfat
ke dalam matriks tulang. Sebagian dari alkali
fosfatase akan memasuki aliran darah. Dengan demikian, maka kadar alkali
fosfatase dalam darah merupakan indikator yang baik tentang tingkat pembentukan
tulang (Carter, 2005).
Selain itu, osteoblas juga berperan memulai proses
resorpsi tulang dengan cara membersihkan permukaan osteoid yang akan diresorpsi
melalui berbagai proteinase netral yang dihasilkannya. (Junquiera, 2007).
e.Osteosit
Adalah osteoblas matur, terletak di lakuna, memiliki
juluran sitoplasma yang berperan dalam transmisi signal dan stimuli dari satu
sel dengan sel lainnya dan juga dengan bone lining cells di permukaan
tulang. Osteosit mempertahankan keseimbangan kadar kalsium dan fosfat dalam
tulang dan darah. Setelah osetoblas menyintesis osteoid, osteoblas akan
langsung berubah menjadi osteosit dan terbenam dalam osteoid yang disintesisnya
(Setiyohadi, 2007).
f.
Osteoklas
Adalah sel-sel besar berinti banyak yang termasuk dalam
turunan sel makrofag mononukleus-monosit. Sel ini bertanggung jawab terhadap
proses resorpsi tulang dengan menghasilkan enzim-enzim proteolitik yang
memecahkan matriks tulang dan beberapa asam yang melarutkan mineral tulang,
sehingga kalsium dan fosfat terlepas ke dalam aliran darah. (Carter, 2005).
Gambar 3. Osteoblas, Osteosit, Osteoklas
- Remodelling Tulang
Selama kehidupan proses resorpsis dan formasi tulang terus berlangsung. Pada awalnya
pembentukan
tulang lebih
cepat dibanding
dengan resorpsi, yang menghasilkan tulang mejadi besar, berat dan padat.
Setelah pertumbuhan berhenti dan puncak massa tulang
tercapai, maka proses remodeling tulang akan dilanjutkan pada permukaan
endosteal. Osteoklas akan
melakukan resorpsi tulang, sehingga meninggalkan rongga yang disebut lacuna
Howship pada tulang trabekular atau cutting cone pada tulang
kortikal. Setelah resorpsi selesai, maka
osteoblas akan melakukan formasi tulang pada rongga yang ditinggalkan
osteoklas, membentuk matriks tulang yang disebut osetoid, dilanjutkan dengan
mineralisasi primer dan mineralisasi sekunder sehingga tulang menjadi keras.
Pada tulang dewasa, formasi tulang hanya akan terjadi bila didahului
dengan proses resorpsi tulang. Sehingga urutan proses yang terjadi pada
remodeling adalah aktifasi-resorpsi-formasi (ARF).
Gambar 4. Remodeling Tulang
3. Regulasi Osteoblas dan Osteoklas
Osetoblas berasal
dari stromal stem cell , untuk diferensiasi dan maturasi osteoblas dibutuhkan
faktor pertumbuhan local seperti fibroblast growth factor (FGF), bone
morphogenetic proteins (BMPs) dan Wnt proteins. Selain itu juga
dibutuhkan faktor transkripsi yaitu Core binding factor 1 (Cbfa) atau
Runx2 dan Osterix (Osx).
Sedangkan osteoklas,
berasal dari sel hemopoetik/fagosit mononuclear. Diferensiasinya di fase awal
membutuhkan factor transkripsi PU-1, dan MiTf yang akan merubah sel progenitor
menjadi sel-sel seri myeloid. Selanjutnya dengan rangsangan M-CSF, sel-sel ini
berubah menjadi sel-sel monositik yang berproliferasi mengekspresikan reseptor
RANK. Selanjutnya, dengan adanya RANK ligand (RANKL) sel ini berdiferensiasi
menjadi osteoklas. Setelah melalui proses resorpsi, osteoklas akan mengalami
apoptosis dengan pengaruh estrogen.
Membran plasma osteoblas kaya akan fosfatase alkali dan memiliki
reseptor untuk hormon paratiroid dan prostaglandin. Selain itu osteoblas juga
mengekspresikan reseptor estrogen dan vitamin D, CSF-1, dan reseptor anti
nuclear factor kB ligand (RANKL) dan osteoprotegrin (OPG). Perlekatan OPG
pada RANKL akan menghambat perlekatan RANKL terhadap RANK di permukaan
osteoklas, sehingga akan menghambat maturasi osteoklas dan resorpsi tulang. Ekspresi
OPG di sel stromal dan osteoblas akan ditingkatkan oleh TGF β.
Gambar 5. Regulasi Osteoblas dan Osteoklas
4. Faktor Yang Mempengaruhi Regulasi
Osteoblas dan Osteoklas
a. Hormon Pertumbuhan (
Growth Hormone, GH ).
Hormon ini
merupakan efek langsung dan tidak langsung terhadap osteoblas untuk
meningkatkan remodeling tulang dan pertumbuhan tulang endokondral. Defisiensi
GH pada manusia akan menyebabkan gangguan pertumbuhan tulang. Efek GH langsung
pada tulang adalah melalui interaksi dengan reseptor GH pada permukaan
osteoblas, sedangkan efek tidak langsungnya melalui produksi insulin-like growth factor-1 ( IGF-1 ).
b. Insulin-like Growth Factor-1 dan 2 ( IGF-1 dan IGF-2 ).
IGF merupakan growth hormone-dependent polypeptides.
IGF I mempunyai efek merangsang sintesis matriks dan kolagen tulang dan juga
merangsang replikasi sel-sel turunan osteoblas, juga menurunkan degradasi
kolagen tulang. IGF I memegang peranan penting pada formasi tulang dan juga
berperan mempertahankan massa
tulang. Berbagai faktor sistemik dan lokal turut berperan mengatur sintesis
IGF-1 oleh osteoblas antara lain estrogen, PTH, PGE2 dan BMP-2,
sedangkan PDGF dan glukokortikoid menghambat ekspresi IGF-1 dan 1,25 (OH)2D3,
TGFb dan FGF-2 memiliki efek stimulator dan inhibitor ekspresi IGF-1. Di dalam
sirkulasi, IGF akan terikat pada IGF binding proteins (IGFBPs).
c. Bone
Morphogenetic Proteins ( BMPs ).
Merupakan anggota
superfamili TGFβ disintesis oleh
sel-sel seri osteoblas dan berperan pada diferensiasi osteoblas. Selain itu
BMPs juga berperan pada osifikasi endokondral dan kondrogenesis.
d. Protein Wnt.
Memiliki
aktivitas yang sama dengan BMP dan menginduksi diferensiasi sel. Signal Wnt
yang optimal pada osteoblas membutuhkan lipoprotein
receptor-related protein 5 (LRP 5). LRP 5 diekspresikan oleh osteoblas dan
sel stromal dan distimulasi oleh BMP. Mutasi yang menyebabkan inaktifasi LRP 5
yang menyebabkan penurunan densitas tulang sedangkan mutasi yang menyebabkan
LRP 5 resisten terhadap inaktifasi menyebabkan peningkatan massa tulang.
e. TGF β.
Berfungsi menstimulasi replikasi preosteoblas,
sintesis kolagen dan menghambat resorpsi tulang dengan cara menginduksi
apoptosis osteoklas.
f. Fibriblast Growth Factors ( FGFs ).
FGF 1 dan 2 bersifat angiogenik dan berperan pada
neovaskularisasi, penyembuhan luka dan reparasi tulang. FGF 1 dan 2 akan
merangsang replikasi sel tulang sehingga populasi sel tersebut meningkat dan
memungkinkan terjadinya sintesis kolagen tulang. FGF juga memiliki peran kecil
pada resorpsi tulang, yaitu meningkatkan ekspresi MMP 13 yang berperan pada
degradasi kolagen dan remodeling tulang.
g. Platelet-Derived
Growth Factor ( PDGF ).
PDGF berfungsi merangsang replikasi sel dan
sintesis kolagen tulang. Selain itu, PDGF-BB juga berperan meningkatkan jumlah
osteoklas dan menginduksi ekspresi MMP 13 oleh osteoblas.
h. Vascular
Endothelial Growth Factors ( VEGF ).
Merupakan
polipeptida yang berperan pada angiogenesis yang sangat penting pada
perkembangan skeletal. VEGF berperan sangat penting pada osifikasi endokondral.
Selama osifikasi endokondral, terjadi invasi pembuluh darah ke dalam rawan
sendi selama mineralisasi matriks, apoptosis kondrosit yang hipertrofik,
degradasi matriks dan formasi tulang.
Sitokin
Diantara group
sitokin yang menstimulasi osteoklastogenesis antara lain adalah: IL-1, IL-3,
IL-6, Leukemia Inhibitory Factor (LIF), Oncostatin M (OSM), Ciliary Neurotropic
Factor (CNTF), Tumor Necrosis Factor
(TNF), Granulocyte Macrophage-Colony Stimulating Factor (GM-CSF), dan
Macrophage-Colony Stimulating Factor (M-CSF). Sedangkan IL-4, IL-10, IL-18, dan
interferon-γ, merupakan sitokin yang menghambat osteoklastogenesis.
Hormon
paratiroid (PTH)
Berperan merangsang resorpsi tulang secara
tidak langsung, karena osteoklas tidak memiiki reseptor PTH. Efeknya melalui peningkatan produksi Cbfa, yang akan meningkatkan ekspresi
RANKL oleh sel osteoblas.
Insulin
Mempunyai
peranan dalam merangsang sintesis matriks tulang dan pembentukan tulang rawan.
Selain itu, insulin juga sangat penting pada mineralisasi tulang yang normal,
dan merangsang produksi IGF I oleh hati. Peranan insulin pada sintesis matriks
terutama pada fungsi diferensiasi osteoblas,
1,25-Dihydroxyvitamin
D3 [1,25(OH)2D3], merupakan hormon yang
disintesis secara primer oleh ginjal dan mempunyai fungsi yang sama dengan PTH,
yaitu merangsang resorpsi tulang dan efek ini berlangsung melalui peningkatan
ekspresi RANKL oleh osteoblas. Selain itu, 1,25(OH)2D3 dapat meningkatkan
sintesis osteokalsin oleh osteoblas, menghambat sintesis kolagen tulang,
meningkatkan ikatan IGF I pada pada reseptornya yang terdapat di sel-sel
turunan osteoblas dan merangsang selected IGF binding proteins yang
dapat memodifikasi aksi dan konsentrasi IGF.
Kalsitonin
Merupakan
inhibitor yang poten terhadap efek resorpsi tulang dari osteoklas, Selain itu,
kalsitonin juga menyebabkan pemecahan osteoklas menjadi sel mononuklear dan
menghambat pembentukan osteoklas.
Glukokortikoid
Mempunyai efek
merangsang resopsi tulang, melalui penurunan absorbsi kalsium yang kemudian
akan diikuti oleh peningkatan PTH. Pemberian glukokortikoid jangka pendek pada
konsentrasi fisiologik, akan merangsang sintesis kolagen tulang. Pada pemberian
jangka panjang dapat menurunkan replikasi tulang sel preosteoblastik, sehingga
jumlah osteoblas menurun dan pembentukan matriks tulang terhambat. Selain itu,
glukokortikoid juga menghambat sintesis IGF I oleh sel tulang.
Hormon tiroid
Berperan merangsang resorpsi
tulang. Hal ini akan menyebabkan pasien hipotiroidisme akan disertai
hiperkalsemia dan pasien pasca-menopause yang mendapat supresi tiroid jangka
panjang akan mengalami osteopenia. Prostaglandin
PGE2 pada dosis
rendah berperan merangsang formasi tulang, sedangkan pada dosis tinggi berperan
meningkatkan resorpsi tulang tanpa menghambat formasi tulang. Pada fase resorpsi
tulang, produksi PGE2 akan meningkat, sedangkan pada formasi tulang, produksi
PGE2 akan menurun.
Estrogen
Estrogen
merupakan hormon yang berperan sebagai regulator pertumbuhan dan homeostasis
tulang yang cukup penting. Estrogen
dapat memiliki efek langsung maupun tak langsung kepada tulang. Efek langsung
estrogen adalah melalui
perantaraan sitokin. Efek tidak
langsungnya adalah homeostasis kalsium
(regulasi absoprsi kalsium usus, modulasi kalsitriol, ekskresi Ca di ginjal,
serta sekresi hormon PTH).
Selain itu, estrogen
berperan dalam menurunkan sekresi sitokin pro-inflamasi oleh monosit darah
serta sumsum tulang seperti IL-1, TNF α, dan IL-6. Sitokin pro-inflamasi ini
berguna untuk menstimulasi perekrutan dan aktivitas osteoklas melalui
peningkatan ekspresi RANKL dan
menurunkan ekspresi OPG. RANKL
menstimulasi RANK untuk mengaktivasi faktor transkripsi NF-κB yang mengaktivasi
dan mempertahankan kehidupan osteoklas. OPG dan RANK(L) bekerja secara antagonis. Selain dipengaruhi oleh estrogen dan sitokin pro-inflamasi, OPG dan RANK(L)
juga dipengaruhi oleh hormon lain (paratiroid, testosteron, glukokortikoid),
vitamin D, dan faktor pertumbuhan
(seperti BMP). Oleh karena itu, penurunan estrogen meningkatkan aktivitas
osteoklas sehingga terjadi laju
turn-over tulang yang sangat tinggi sedangkan aktivitas osteoblas tidak dapat mengejar aktivitas
osteoklas
B. Osteoporosis
1. Definisi
Osteoporosis adalah penyakit tulang sistemik yang
ditandai oleh penurunan densitas massa
tulang dan perburukan mikroarsitektur tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan
mudah patah. Pada tahun 2001, National Institute of Health (NIH)
mengajukan definisi baru osteoporosis sebagai penyakit tulang sistemik yang di
tandai oleh compromised bone strength sehingga tulang mudah patah (Setiyohadi,
2007).
Osteoporosis adalah suatu kondisi berkurangnya masa
tulang secara nyata yang berakibat pada rendahnya kepadatan tulang (Hortono,
2000).
- Faktor Resiko
- a) Riwayat Keluarga
Faktor genetik ini terutama berpengaruh pada ukuran dan
densitas tulang. Disamping itu keluarga juga berpengaruh dalam hal kebiasaan
makan dan aktifitas fisik. Ras kaukasia dan oriental lebih sering
terkena osteoporosis daripada kulit hitam dan polinesia.
b) Jenis Kelamin
Osteoporosis lebih banyak terjadi pada wanita. Hal ini
disebabkan pengaruh hormon estrogen yang mulai menurun kadarnya dalam tubuh
sejak usia 35 tahun.
c) Usia
Tiap peningkatan 1 dekade, risiko menigkat 1,4 -1,8 kali karena
tulang menjadi berkurang kekuatan dan kepadatannya. Berkurangnya massa tulang mulai
terjadi setelah usia antara 30 sampai 35 tahun. Patah tulang meningkat pada
wanita usia >45 tahun, sedangkan pada laki-laki patah tulang baru meningkat
pada usia >75 tahun. Penyusutan massa
tulang sampai 3-6% pertahun terjadi pada 5-10 tahun pertama pascamenopause.
Pada usia lanjut penyusutan terjadi sebanyak 1% per tahun. Namun, pada wanita
yang memiliki faktor risiko penyusutan dapat terjadi hingga 3% per tahun.
Selain itu, pada usia lanjut juga terjadi penurunan kadar 1,25 (OH)2D yang
disebabkan oleh kurangnya masukan vitamin D dalam diet, gangguan absorpsi
vitamin D, dan berkurangnya vitamin D dalam kulit.
d) Aktifitas Fisik
Kurang berolahraga dapat menghambat proses pembentukan
tulang sehingga kepadatan massa
tulang akan berkurang. Semakin banyak bergerak dan olah raga, maka otot akan
memacu tulang untuk membentuk massa .
Aktivitas fisik harus mempunyai unsur pembebanan pada
tubuh dan penekanan pada aksis tulang untuk meningkatkan respon osteogenik dari
estrogen.
e) Status Gizi
Zat gizi dan gaya
hidup juga mempengaruhi kondisi tulang. Perawakan kurus cenderung memiliki
bobot tubuh cenderung ringan merupakan faktor risiko terjadinya kepadatan
tulang yang rendah.
f) Kebiasaan Konsumsi Asupan Kalsium
Kalsium (Ca), fosfor (P), dan magnesium (Mg) merupakan
komponen utama pembentuk tulang. Sebagai mineral terbanyak, berat Ca yang
terdapat pada kerangka tulang orang dewasa kurang lebih 1 kilogram. Penyimpanan
mineral dalam tulang akan mencapai puncaknya (Peak Bone Mass atau PBM)
sekitar umur 20-30 tahun. Pada priode PBM ini jika massa tulang tercapai dengan
kondisi maksimal akan dapat menghindari terjadinya osteoporosis pada usia
berikutnya.
g) Kebiasaan Merokok
Zat nikotin di dalam rokok mempercepat penyerapan tulang
dan membuat kadar dan aktivitas hormon estrogen dalam tubuh berkurang.
h) Penyakit Diabetes Mellitus
Orang
yang mengidap DM lebih mudah mengalami osteoporosis. Pemakaian insulin
merangsang pengambilan asam amino ke sel tulang sehingga meningkatkan
pembentukkan kolagen tulang.
3. Klasifikasi Osteoporosis
a. Osteoporosis primer,
terjadi akibat kekurangan massa
tulang yang terjadi karena faktor usia secara alami. Osteoporosis primer ini
terdiri dari dua bagian:
· Tipe I ( Post
Menopausal)
Pada masa menopause, fungsi ovarium menurun sehingga produksi hormon
estrogen dan progesteron juga menurun. Estrogen berperan dalam proses mineralisasi tulang dan menghambat resorpsi tulang serta pembentukan osteoklas melalui
produksi sitokin. Ketika kadar hormon estrogen darah menurun, proses pengeroposan tulang dan pembentukan mengalami ketidakseimbangan. Pengeroposan
tulang menjadi lebih dominan (Wirakusumah, 2007).
·
Tipe II (Senile)
Terjadi pada pria dan wanita usia ≥70 tahun, karena
menurunnya absorbsi kalsium, vitamin D, dan produksi estrogen yang berhubungan
dengan makin bertambahnya usia.
Karakteristik
|
Tipe I
|
Tipe II
|
Umur (tahun)
|
50-75
|
>70
|
Perempuan: Laki-laki
|
6:1
|
2:1
|
Tipe kerusakan tulang
|
Terutama trabekular
|
Trabekular dan kortikal
|
Bone turnover
|
Tinggi
|
Rendah
|
Lokasi fraktur terbanyak
|
Vertebra, radius distal
|
Vertebra, kolum femoris
|
Fungsi PTH
|
Menurun
|
Meningkat
|
Efek estrogen
|
Terutama skeletal
|
Terutama ekstraskeletal
|
Etiologi utama
|
Defisiensi estrogen
|
Penuaan, defisiensi estrogen
|
Tabel 1.
Karakteristik Osteoporosis tipe I dan II
b. Osteoporosis sekunder
Dapat terjadi pada tiap
kelompok umur yang disebabkan oleh penyakit tertentu, konsumsi
obat-obatan, dan gaya hidup yang mempengaruhi
kepadatan massa tulang. Contoh penyebab osteoporosis sekunder antara lain:
·
Penyakit endokrin: hiperparatiroidisme,
hipertirodisme, hipogonadisme
·
Penyakit saluran cerna yang
menyebabkan kurangnya absorbsi kalsium, fosfor, dan vitamin D di usus.
· Konsumsi obatan-obatan: kortikosteroid (lebih dari 6 bulan), aromatase
inhibitor, pengganti hormon tiroid
· Penyakit keganasan (leukimia, multiple mieloma)
· Gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok, kurang olahraga
4. Patogenesis
Patogenesis utama dari
osteoporosis meliputi: (a) kegagalan untuk mencapai kerangka kekuatan optimal
selama pertumbuhan dan perkembangan, (b) resorpsi tulang yang berlebihan yang
mengakibatkan hilangnya massa tulang dan gangguan arsitektur, dan (c )
kegagalan untuk menggantikan tulang yang hilang akibat cacat dalam pembentukan
tulang.
a. Patogenesis Osteoporosis
Tipe 1
Setelah menopause, maka resorpsi tulang akan
meningkat, terutama pada dekade awal setelah menopause, sehingga insiden
fraktur, terutama fraktur vertebra dan radius distal meningkat. Penurunan
densitas tulang terutama pada tulang trabecular, karena memiliki permukaan yang
luas dan hal ini dapat dicegah dengan terapi sulih estrogen. Petanda resorpsi
tulang dan formasi tulang, keduanya meningkat menunjukkan adanya peningkatan bone
turnover.
Estrogen juga berperan menurunkan produksi berbagai
sitokin oleh bone marrow stromal cells dan sel-sel mononuclear, seperti IL-1,
IL-6, dan TNF-α yang berperan meningkatkan produksi berbagai sitokin tersebut,
sehingga aktivitas osteoklas meningkat.
Selain peningkatan aktivitas osteoklas, menopause juga
menurunkan absorpsi kalsium di usus dan meningkatkan ekskresi kalsium di
ginjal. Selain itu, menopause juga menurunkan sintesis berbagai protein yang
membawa 1,25(OH)2D, sehingga pemberian estrogen akan meningkatkan 1,25(OH)2D di
dalam plasma. Tetapi pemberian estrogen transdermal tidak akan meningkatkan
sintesis protein tersebut, karena estrogen transdermal tidak diangkut melewati
hati. Walaupun demikian, estrogen transdermal tetap dapat meningkatkan absorbsi
kalsium di usus secara langsung tanpa dipengaruhi vitamin D. Untuk mengatasi
keseimbangan negatif kalsium akibat menopause, maka kadar PTH akan meningkat
pada wanita menopause, sehingga osteoporosis akan semakin berat.
b. Patogenesis Osteoporosis
Tipe II
Pada dekade kedelapan dan sembilan kehidupan, terjadi
ketidakseimbangan remodeling tulang, di mana resorpsi tulang meningkat,
sedangkan formasi tulang tidak berubah atau menurun. Hal ini akan menyebabkan
kehilangan massa
tulang, perubahan mikroarsitektur tulang, dan peningkatan risiko fraktur yang
independen terhadap BMD. Penyebab penurunan fungsi osteoblast pada orang tua,
diduga karena penurunan kadar estrogen dan IGF-1.
Defisiensi
kalsium dan vitamin D juga sering didapatkan pada orang tua karena asupan
kalsium dan vitamin D yang kurang, anoreksia, malabsorbsi dan paparan sinar
matahari yang rendah. Akibat defisiensi kalsium, akan timbul
hiperparatiroidisme sekunder yang persisten sehingga akan semakin meningkatkan
resorpsi tulang dan kehilangan massa tulang, terutama pada orang-orang yang
tinggal di daerah 4 musim.
Defisiensi
estrogen, ternyata juga merupakan masalah yang penting sebagai salah satu
penyebab osteoporosis pada orang tua, baik pada laki-laki maupun perempuan.
Demikian juga kadar testosterone pada laki-laki. Defisiensi estrogen pada
laki-laki juga berperan pada kehilangan massa tulang. Estrogen pada laki-laki
berfungsi mengatur resorpsi tulang, sedangkan estrogen dan progesterone
mengatur formasi tulang. Kehilangan massa tulang trabecular pada laki-laki
berlangsung linier, sehingga terjadi penipisan trabekula, tanpa disertai
putusnya trabekula seperti pada wanita. Penipisan trabekula pada laki-laki
terjadi karena penurunan formasi tulang, sedangkan putusnya trabekula pada
wanita disebabkan karena peningkatan resorpsi yang berlebihan akibat penurunan
kadar estrogen yang drastis pada waktu menopause.
Dengan
bertambahnya usia, kadar testosterone pada laki-laki akan menurun sedangkan
kadar sex hormone binding globulin (SHBG) akan meningkat. Peningkatan SHBG akan
meningkatkan pengikatan estrogen dan testosterone membentuk kompleks yang
inaktif.
Penurunan
hormone pertumbuhan (GH) dan IGF-1, juga berperan terhadap peningkan resorpsi
tulang. Tetapi penurunan kadar androgen adrenal (DHEA dan DHEA-S) ternyata
menunjukkan hasil yang kontroversial terhadap penurunan massa tulang pada orang
tua.
5. Gambaran Klinis
Osteoporosis
disebut dengan silent disease karena gejala muncul setelah beberapa dekade. Beberapa
gejala yang khas pada osteoporosis adalah:
·
Patah tulang akibat trauma
yang ringan terutama pada vertebra, pergelangan tangan, pinggul, humerus, dan
tibia
·
Tubuh makin pendek, kifosis
dorsal bertambah, nyeri tulang.
·
Adanya deformitas tulang, leg-length inequality
6. Pemerikasaan Penunjang
Pengukuran densitas tulang merupakan kriteria utama untuk menegakkan
diagnosis dan monitoring osteoporosis dengan densitometri, computed tomography
scan (CT Scan), atau ultrasound.
Beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mengukur kepadatan mineral
tulang adalah sebagai berikut:
a. Dual-Energy X-ray Absorptiometry (DEXA), menggunakan dua sinar–X berbeda, dapat digunakan untuk
mengukur kepadatan tulang belakang dan pangkal paha. Sejumlah sinar-X
dipancarkan pada bagian tulang dan jaringan lunak yang dibandingkan dengan
bagian yang lain. Tulang yang mempunyai kepadatan tulang tertinggi hanya
mengizinkan sedikit sinar-x yang melewatinya. DEXA merupakan metode yang
paling akurat untuk mengukur kepadatan mineral tulang. DEXA dapat
mengukur sampai 2% mineral tulang yang hilang tiap tahun. Penggunaan alat ini
sangat cepat dan hanya menggunakan radiasi dengan dosis yang rendah tetapi
lebih mahal dibandingkan dengan metode ultrasounds. Satuan : gr/cm2.
b. Peripheral Dual-Energy X-ray Absorptiometry (P-DEXA), merupakan
hasil modifikasi dari DEXA. Alat ini mengukur kepadatan tulang
anggota badan seperti pergelangan tangan, tetapi tidak dapat mengukur
kepadatan tulang yang berisiko patah tulang seperti tulang belakang atau
pangkal paha. c.Dual Photon Absorptiometry (DPA), menggunakan zat
radioaktif untuk menghasilkan radiasi. Dapat mengukur kepadatan mineral tulang
belakang dan pangkal paha, juga menggunakan radiasi sinar dengan dosis yang
sangat rendah tetapi memerlukan waktu yang cukup lama. Satuan : gr/cm2.
d.Ultrasounds, pada umumnya digunakan untuk tes pendahuluan. Jika
hasilnya mengindikasikan kepadatan mineral tulang rendah maka dianjurkan untuk
tes menggunakan DEXA. Ultrasounds dalam penggunaannya cepat, mudah dan
tidak menggunakan radiasi seperti sinar-X. Salah satu kelemahan ultrasounds adalah
tidak dapat menunjukkan kepadatan mineral tulang yang berisiko patah tulang
karena osteoporosis. Satuan :
gr/cm2.
e.Quantitative Computed Tomography (QCT), adalah suatu model dari CT-scan
yang dapat mengukur kepadatan tulang belakang. Pada umumnya pengukuran
dengan QCT jarang dianjurkan karena sangat mahal, menggunakan
radiasi dengan dosis tinggi dan kurang akurat dibandingkan dengan DEXA,
P-DEXA atau DPA. Satuan : gr/cm2.
untuk menilai hasil pemeriksaan Densitometri, digunakan kriteria WHO,
yaitu:
·
Normal bila densitas massa tulang di atas -1 SD rata-rata nilai densitas massa tulang orang dewasa
muda (T-score)
·
Osteopenia bila densitas massa tulang diantara -1
SD dan -2,5 SD dari T-score.
·
Osteoporosis bila densitas massa tulang -2,5 SD
T-score atau kurang.
(Raisz, 2005).
7.
Penatalaksanaan
Secara teoritis, osteoporosis dapat diobati dengan cara
menghambat kerja osteoklas (antiresorptif) dan / atau meningkatkan kerja
osteoblas (stimulator tulang). Walaupun demikian, saat ini obat yang beredar
pada umumnya bersifat anti resorptif. Yang termasuk golongan obat anti
resorptif adalah estrogen, anti estrogen, bisfosfonat dan kalsitonin. Sedangkan
yang termasuk stimulator tulang adalah Na-fluorida, PTH dan lain sebagainya.
Kalsium dan vitamin D tidak mempunyai efek anti resorptif maupun stimulator
tulang, tetapi diperlukan untuk optimalisasi mineralisasi osteoid setelah
proses formasi oleh osteoblas. Kekurangan kalsium akan menyebabkan peningkatan
produksi PTH (hiperparatiroidisme sekunder) yang dapat menyebabkan pengobatan
osteoporosis menjadi tidak efektif. (Setiyohadi, 2007).
a. Edukasi dan pencegahan
Ø Anjurkan pasien untuk melakukan aktivitas fisik yang
teratur untuk memelihara kekuatan, kelenturan, dan koordinasi system
neuromuscular serta kebugaran, sehingga dapat mencegah risiko terjatuh. Berbagai
latihan yang dapat dilakukan meliputi berjalan 30-60 menit/hari, bersepeda
maupun berenang.
Ø Jaga
asupan kalsium 1000-1500 mg/hari, baik melalui makanan sehari-hari maupun
suplementasi
Ø Hindari
merokok dan minum alkohol
Ø Diagnosis
dini dan terapi yang tepat terhadap defisiensi testosterone pada laki-laki dan
menopause awal pada wanita
Ø Hindari
mengangkat barang-barang yang berat pada pasien yang sudah pasti osteoporosis
Ø Hindari
berbagai hal yang dapat menyebabkan pasien terjatuh, misalnya lantai yang
licin, obat-obat sedatif dan obat anti hipertensi yang dapat menyebabkan
hipotensi ortistatik ( Rosen, 2005; Setiyohadi, 2007).
b. Latihan dan program
rehabilitasi
Dengan
latihan yang teratur, pasien akan menjadi lebih lincah, tangkas dan kuat
otot-ototnya sehingga tidak mudah terjatuh. Selain itu latihan juga akan
mencegah perburukan osteoporosis karena terdapat rangsangan
biofisikoelektrokemikal yang akan meningkatkan remodeling tulang.
Pada pasien
yang belum mengalami osteoporosis, maka sifat latihan adalah pembebanan
terhadap tulang, sedangkan pada penderita yang sudah osteoporosis, maka latihan
dimulai dengan latihan tanpa beban, kemudian ditingkatkan secara bertahap
sehingga mencapai latihan beban yang adekuat (Rosen, 2005; Setiyohadi, 2007).
c. Estrogen
Absorpsi
estrogen sangat baik melalui kulit, mukosa (misalnya vagina) dan saluran cerna.
Pemberian estradiol transdermal akan mencapai kadar yang adekuat di dalam darah
pada dosis 1/20 dosis oral. Estrogen oral akan mengalami metabolism terutama di
hati. Estrogen yang beredar di dalam tubuh sebagian besar akan terikat dengan sex hormone-binding globulin (SHBG) dan
albumin, hanya sebagian kecil yang tidak terikat, tapi justru fraksi inilah
yang aktif. Estrogen akan diekskresi lewat saluran empedu, kemudian
direabsorpsi kembali di usus halus (sirkulasi enterohepatik). Pada fase ini,
estrogen akan dimetabolisme menjadi bentuk yang tidak aktif dan di ekskresikan
lewat ginjal.
Beberapa
preparat estrogen yang dapat dipakai dengan dosis untuk anti resorptifnya
adalah estrogen terkonyugasi 0,625 mg/hari, 17β- estradiol oral 1-2 mg/hari, 17β- estradiol transdermal 50 µg/hari, 17β- estradiol perkutan 1,5 mg/hari, dan 17β- estradiol subkutan 25-50 mg setiap 6
bulan.
d. Raloksifen
Raloksifen
merupakan anti estrogen yang mempunyai efek seperti estrogen di tulang dan
lipid, tetapi tidak menyebabkan perangsangan endometrium dan payudara. Golongan
preparat ini disebut juga selective
estrogen receptor modulators (SERM Mekanisme kerja raloksifen terhadap
tulang, sama dengan estrogen, tidak sepenuhnya diketahui dengan pasti, tetapi
diduga melibatkan TGFβ3 yang dihasilkan oleh osteoblas dan
osteoklas yang berfungsi menghambat diferensiasi osteoklas dan kehilangan massa
tulang.
Aksi
raloksifen diperantarai oleh ikatan raloksifen pada reseptor estrogen, tetapi
mengakibatkan ekspresi gen yang diatur estrogen yang berbeda pada jaringan yang
berbeda. Dosis yang direkomendasikan untuk mencegah osteoporosis adalah 60
mg/hari (Rosen, 2005).
e. Bisofasfonat
Bisfosfonat
merupakan obat yang digunakan untuk pengobatan osteoporosis, baik sebagai
pengobatan alternative setelah terapi pengganti hormonal pada osteoporosis pada
wanita, maupun pengobatan osteoporosis pada laki-laki dan osteoporosis akibat
steroid.
Bisfosfonat
dapat mengurangi resorpsi tulang oleh osteoklas dengan cara berikatan pada
permukaan tulang dan menghambat kerja osteoklas dengan cara mengurangi produksi
proton dan enzim lisosomal di bawah osteoklas. Selain itu, beberapa bisfosfonat
juga dapat mempengaruhi aktivasi precursor osteoklas, diferensiasi precursor
osteoklas menjadi osteoklas yang matang, kemotaksis, perlekatan osteoklas pada
permukaan tulang dan apoptosis osteoklas.
Bisfosfonat
juga memiliki efek tak langsung terhadap osteoklas dengan cara merangsang
osteoblas menghasilkan substansi yang dapat menghambat osteoklas dan menurunkan
kadar stimulator osteoklas. Pemberian bisfosfonat oral akan di absorpsi di usus
halus dan absorpsinya sangat buruk, kurang dari 5 % dari dosis yang di minum.
Jumlah yang diabsorpsi juga tergantung pada dosis yang diminum. Absorpsi juga
akan terhambat bila bisfosfonat diberikan bersama-sama dengan kalsium, kation
divalent lainnya dan berbagai minuman lain kecuali air.
Sekitar 20-50
% bisfosfonat yang diabsorpsi, akan melekat pada permukaan tulang setelah 12-24
jam. Setelah berikatan dengan tulang dan beraksi terhadap osteoklas,
bisfosfonat akan tetap berada didalam tulang selama berbulan-bulan bahkan
bertahun-tahun, tetapi tidak aktif lagi. Bisfosfonat yang tidak melekat pada
tulang, tidak akan mengalami metabolism didalam tubuh dan akan diekskresikan
dalam bentuk utuh melalui ginjal, sehingga pemberiannya pada pasien gagal
ginjal harus berhati-hati.
Beberapa preparat bisofasfonat
v Etidronat
Untuk terapi
osteoporosis, etidronat dapat diberikan dengan dosis 400 mg/hari selama 2
minggu, dilanjutkan dengan suplementasi kalsium 500 mg/hari selama 76 hari.
Siklus ini diulang tiap 3 bulan. Pemberian secara siklik bertujuan untuk
mengatasi gangguan mineralisasi akibat pemberian etidronat jangka panjang terus
menerus.
v Klodronat
Klodronat dapat
diberikan dengan dosis 400 mg/hari selama 1 bulan dilanjutkan dengan
suplementasi kalsium selama 2 bulan. Siklus ini dapat diulang setiap 3 bulan.
Pemberian klodronat jangka panjang terus menerus juga akan mengganggu
mineralisasi tulang.
v Pamidronat
Biasanya diberikan
melalui infuse intravena.
v Alendronat
Merupakan
aminobisfosfonat yang sangat poten. Dapat diberikan dengan dosis 10 mg/hari
setiap hari secara kontinyu, karena tidak menganggu mineralisasi tulang.
v Risedronat
Merupakan bisfosfonat
generasi ketiga yang poten, untuk terapi osteoporosis diperlukan dosis 5
mg/hari secara kontinu.
v Asam
Zoledronat
Merupakan bisfosfonat
terkuat yang saat ini ada. Sediaan yang ada adalah sediaan intravena yang harus
diberikan per drip selama 15 menit untuk dosis 4 mg. Untuk pengobatan
osteoporosis cukup diberikan dosis 4 mg per tahun.
(Favus, 2010).
f. Kalsitonin
Kalsitonin adalah suatu
peptide yang terdiri dari 32 asam amino, yang dihasilkan oleh sel C kelenjar
tiroid dan berfungsi menghambat resorpsi tulang oleh osteoklas.Sekresi
kalsitonin secara akut diatur oleh kadar kalsium dalam darah dan secara kronik
dipengaruhi oleh umur dan jenis kelamin. Kadar kalsitonin wanita lebih rendah
daripada pria. Kalsitonin juga akan meningkatkan ekskresi kalsium dan fosfat di
ginjal, sehingga akan menimbulkan hipokalsemia dan hipofosfatemia.
Dosis yang dianjurkan untuk
pemberian intra nasal adalah 200 U per hari. Kadar puncak di dalam plasma akan
tercapai dalam waktu 20-30 menit, dan akan dimetabolisme dengan cepat di
ginjal. Pada sekitar separuh pasien
yang mendapatkan kalsitonin lebih dari 6 bulan, ternyata terbentuk antibody
yang akan mengurangi efektivitas kalsitonin (Rosen, 2005).
g. Natrium Fluorida
Natrium fluoride merupakan stimulator tulang yang sampai
sekarang belum disetujiui oleh FDA tapi tetap digunakan di beberapa megara.
Saat ini tersedia 2 preparat, yaitu natrium fluoride (NaF) dalam bentuk tablet
salut yang bersifat lepas lambat, dan tablet monofluorofosfat (MFP).
Fluorida merupakan mitogenik
terhadap osteoblas yang aksinya membutuhkan ketersediaan faktor pertumbuhan.
Berbeda dengan efek anti resorptif yang sangat lambat, pemberian fluoride akan
meningkatkan massa
tulang spinal secara dramatic dan linier rata-rata 9% per tahun selama 4 tahun.
Walau demikian, ternyata pemberian fluoride akan menyebabkan penurunan densitas
pada tulang kortikal sehingga meningkatkan risiko fraktur tulang perifer.
Risiko ini dapat dikurangi dengan pemberian fluoride secara siklik (ada massa bebas fluoride)
atau dengan mengkombinasikannya dengan kalsium dan vitamin D.
Dosis NaF di bawah 30-40
mg/hari ternyata tidak memberikan efek terapetik yang nyata, tetapi dosis di
atas 75-80 mg/ hari akan menyebabkan kelainan tulang.
Efek samping lain selain
peningkatan risiko fraktur perifer adalah iritasi lambung dan arthralgia yang
mungkin berhubungan dengan mikrofraktur atau remodeling tulang yang terlalu
cepat. Untuk mengatasi iritasi
lambung, dapat digunakan tablet salut NaF atau preparat MFP.
h. Hormon Paratiroid
Hormon paratiroid berfungsi untuk mempertahankan kadar kalsium
di dalam cairan ekstraselular dengan cara merangsang sintesis 1,25 (OH)2D di
ginjal, sehingga absorbs kalsium di usus meningkat. Selain itu juga merangsang
formasi tulang.
h. Vitamin D
Pada penelitian didapatkan
suplementasi 500 IU kalsiferol dan 500 mg kalsium peroral selama 18 bulan
ternyata mampu menurunkan fraktur nonspiral sampai 50% (Dawson-Hughjes, 1997).
Vitamin D diindikasikan pada orang-orang tua yang tinggal di Panti Werda yang
kurang terpapar sinar matahari, tetapi tidak diindikasikan pada populasi Asia yang banyak terpapar sinar matahari.
i. Kalsitriol
Penelitian Galagher (2001)
mendapatkan bahwa pemberian kalsitriool 0,25 mg, 2 kali perhari selama ternyata
meningkatkan BMD pada daerah lumbal hanya 1,7%, dan tidak diindikasikan sebagai
pilihan pertama pengobatan osteoporosis pasca menopause. Kalsitriol
diindikasikan bila terdapat hipokalsemia yang tidak menunjukkan perbaikan
dengan pemberian kalsium peroral. Kalsitriol juga diindikasikan untuk mencegah
hiperparatiroidisme sekumder, baik akibat hipokalsemia, maupun akibat gagal
ginjal terminal.
j. Kalsium
Preparat kalsium yang terbaik
adalah kalsium karbonat, karena mengandung kalsium elemen 400 mg/gram, disusul
kalsium fosfat yang mengandung kalsium elemen 230 mg/ gram, kalsium sitrat yang
mengandung kalsium elemen 211 mg/ gram, kalsium laktat yang mengandung kalsium
elemen 130 mg/ gram dan kalsium glukonat yang mengandung kalsium elemen 90 mg/
gram.
k. Fitoestrogen
Fitoestrogen adalah fitokimia
yang memiliki aktivitas estrogenic. Ada
banyak senyawa fitoestrogen, tetapi yang telah diteliti adalah isoflavon dan
lignans. Isoflavon yang berefek estrogenic antara lain genistein, daidzein dan
gliklosidanya yang banyak ditemukan pada golongan kacang-kacangan (Leguminosae)
seperti soy bean dan red clover. Sampai saat ini belum ada bukti dari clinical
trial bahwa fitoestrogen dapat mencegah maupun mengobati osteoporosis (Alekel,
2000; Potter 1998).
l. Terapi Kombinasi
Kombinasi antara 2
antiresorptif atau antiresorptif dan stimulator tulang, ternyata memberikan
hasil yang menjanjikan. Tujuan terapi kombinasi adalah untuk mendapatkan efek
maksimal 2 macam obat yang berbeda mekanismenya dan mendapatkan efek
ekstraskeletal khusus dari masing-masing obat tersebut.
Kombinasi etidronat dengan
estrogen memberikan hasil yang baik, baik pada wanita yang baru mengalami
menopause, maupun pada wanita dengan osteoporosis pasca menopause. Pada wanita
yang baru mengalami menopause, pemberian kombinasi estrogen dan etidronat
selama 4 tahun ternyata dapat meningkatkna BMD pada daerah lumbal sebesar 10,9%
sedangkan pada daerah leher femur 7,25%.
Kombinasi estrogen dan
risedronat juga menunjukkan hasil yang sangat baik, dimana penelitian 1 tahun
kombinasi tersebut menunjukkan peningkatan BMD lumbal sebesar 5,2% dan daerah leher
femur sebesar 2,6%, sedangkan pasien yang hanya mendapatkan estrogen
menunjukkan peningkatan BMD lumbal hanya 4,8% dan BMD leher femur hanya 1,8%.
Kombinasi alendronate dan
raloksifen juga telah diteliti selama 1 tahun pada 330 pasien osteoporosis pasca
menopause. Peningkatan BMD lumbal pada kelompok alendronate sendiri adalah 2%,
raloksifen sendiri 4,3% dan kombinasi mencapai 5,2%.
Kombinasi PTH dengan estrogen
atau kalsitonin, atau bisfosfonat atau SERM juga menunjukkan hasil yang sangat
baik.
Dari penelitian-penelitian
ini, ternyata kombinasi obat-obat osteoporosis ternyata memberikan hasil yang
cukup baik dibandingkan pemberian obat-obat tersebut secara tersendiri (Rosen,
2005).
m. Pembedahan
Pembedahan pada pasien osteoporosis dilakukan bila terjadi
fraktur, terutama fraktur panggul. Beberapa prinsip yang harus diperhatikan
pada terapi bedah pasien osteoporosis adalah :
-
Pasien osteoporosis usia lanjut dengan fraktur,
sebaikknya segera dilakukan sehingga dapat dihindari imobilisasi lama dan
komplikasi fraktur.
-
Tujuan terapi bedah adalah untuk mendapatkan fiksasi
yang stabil, sehingga mobilisasi pasien dapat dilakukan sedini mungkin.
-
Asupan kalsium tetap harus diperhatikan, agar
mineralisasi kalus sempurna.
-
Pengobatan medikamentosa osteoporosis dengan
bifosfonat, atau raloksifen, atau terapi pengganti hormonal, maupun kalsitonin,
tetap harus diberikan.
Evaluasi Hasil Pengobatan
Evaluasi hasil pengobatan
dapat dilakukan dengan mengulang pemeriksaan densitometry setelah 1-2 tahun pengobatan
dan dinilai peningkatan densitasnya. Bila dalam waktu 1 tahun tidak terjadi
peningkatan maupun penurunan densitas massa
tulang, maka pengobatan sudah dianggap berhasil, karena resorpsi tulang sudah
dapat ditekan.
Selain mengulang pemeriksaan
densitas massa
tulang, maka pemeriksaan petanda biokimia tulang juga dapat digunakan untuk
evaluasi pengobatan. Penggunaan petanda biokimia tulang, dapat menilai hasil
terapi lebih cepat yaitu dalam waktu 3-4 bulan setelah pengobatan. Yang dinilai
adalah penurunan kadar berbagai petanda resorpsi dan formasi tulang
(Setiyohadi, 2007).
RESEP:
Tujuan terapi osteoporosis:
- Mengurangi rasa sakit : Analgetik/ AINS/ Steroid
- Meningkatkan kepadatan tulang : Osteocal 1-2 tablet/hari
- Mengurangi retak tambahan : Rehabilitasi Medik, Edukasi pola hidup
Carter, Michael. 2005. Anatomi dan Fisiologi Tulang dan
Sendi. Dalam: Patofosiologi:
Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 6. Jakarta: EGC
Favus, Murray .
J. 2010. Bisphosphonates for Osteoporosis. In: N
Engl J Med 2010; 363:2027-2035. http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMct1004903
( 16 Januari 2012)
Jilka, Robert. 1995. Bone Marrow, Cytokines, and Bone Remodeling:
Emerging Insights into the Pathophysiology of Osteoporosis. In: N Engl J Med 1995; 332:305-311. http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJM199502023320506
(16 Januari 2012).
Junqueira. 2007. Histologi Dasar: Teks dan Atlas. Edisi 10. Jakarta : EGC
Hortono
M., 2000.
Mencegah dan Mengatasi Osteoporosis. Jakarta: Puspa Swara
Kaniawati, M., Moeliandari, F,
2003, Penanda Biokimia untuk Osteoporosis.Forum Diagnosticum Prodia
Diagnostics Educational Services.
Raisz, Lawrence G (1). 2005. Screening for Osteoporosis. In: N
Engl J Med 2005; 353:164-171. http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMcp042092 ( 16 Januari 2012)
Raisz, Lawrence G (2). 2005. Pathogenesis
of osteoporosis: concepts, conflicts, and prospects. In: Journal Clinical
Investigation 2005;115(12):3318–3325. http://www.jci.org/articles/view/27071. (16 Januari 2012)
Rosen, Clifford. 2005. Postmenopausal Osteoporosis.
In: N Engl J Med 2005; 353:595-603. http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMcp043801
( 16 Januari 2012)
Setiyohadi, Bambang (1). 2007. Osteoporosis. dalam:
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II Edisi IV. Jakarta: Departmen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia
Setiyohadi, Bambang (2). 2007.
Struktur dan Metabolisme Tulang. dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam,
Jilid II Edisi IV. Jakarta: Departmen
Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia



.jpg)




BalasHapusIni Kenapa orang-orang Selalu Mengira Saya 10 tahun Lebih Muda KLIK DISINI
phytogreen | zell v platinum plus
BalasHapusIni Kenapa orang-orang Selalu Mengira Saya 10 tahun Lebih Muda KLIK DISINI
phytogreen | zell v platinum plus | zell v phytogreen | zell v | placenta domba | zell v price | zell v placenta | zell v product |
BalasHapusThis is a great blog posting and very useful. I really appreciate the research you put into it.Superb!
rahasia awet muda zell v platinum plus terbuat dari ekstrak plasenta domba .satu satunya anti aging terbaik yang ada di indonesia dan yang pertama diasia, perkenalkan zell v dariplacenta domba
BalasHapusThis is a great blog posting and very useful. I really appreciate the research you put into it.Superb!
alah satu cara untuk awet muda dengan menggunakan produk zell v platinum plus terbuat dari ekstrak plasenta domba .satu satunya produk anti aging terbaik yang ada di Indonesia dan yang pertama di Asia, perkenalkan zell v dari placenta domba
This is a great blog posting and very useful. I really appreciate the research you put into it.Superb!
BalasHapusphytogreen | zell v
platinum plus | zell v phytogreen | zell v | placenta domba | zell v price | zell v placenta | zell v product | cream pemutih |suntik stem cell | plasenta rusa | placenta kosmetik | suntik placenta | produk placenta | zell v gold | kosmetik placenta | zel-v plus | suntik placenta domba | suntik placenta di wajah | pemutih wajah placenta | placenta pemutih wajah |pemutih placenta | terapi stem cell | tanam benang | zell v platinum plus | kurma coklat | zell v | placenta domba